e-mail: hawepos_online@yahoo.com
 
Foto Ilustrasi
 
 
  Thursday, 17-Jul-2003
edisi lalu
 

Tolak Maling dengan Portal

Ada pemandangan baru di daerah Pleburan. Portal terpasang pada jalur utama serta Gang Pleburan I - IV. Maksud semula ingin menciptakan rasa aman. Setidaknya demikianlah aksen yang bisa ditangkap dari model portal Gang Pleburan I dan III yang menyerupai gerbang rumah.
Gagasan untuk memasang portal bermula dari raibnya sebuah mobil Kijang LG X di Gang Pleburan I sekitar setahun silam. Sejak saat itulah dicanangkan program pembuatan portal. Tujuannya jelas, untuk mengamankan daerah Pleburan.
Namun belum juga rencana tersebut terlaksana, kejadian serupa hampir terulang kembali. Masih berlokasi di Gang Pleburan I, sebuah mobil Kijang hampir saja lenyap. Bukan hanya mobil, sepeda motor tak luput menjadi incaran pencuri.
Akhirnya, pemasangan portal tak ditunda - tunda lagi. Program tersebut disepakati oleh warga serta perangkat RT, RW hingga Kelurahan Pleburan. Konsekuensinya, tiap Kepala Keluarga ditarik iuran sebesar satu juta rupiah.
Meski portal penolak maling terpasang kokoh, bukan berarti masalah usai. Portal ternyata juga menolak pelanggan bisnis lain.
Warung kucing adalah satu contohnya. Sejak diberlakukannya jam malam (portal ditutup pukul 22.30 - 05.00), warung kucing Si Boy yang berlokasi di jalan utama Pleburan setidaknya kehilangan pelanggan. "Biasanya mereka menengok sampai portal. Tapi karena jalannya diportal, ya sudah. Mereka nggak jadi mampir", tutur Si Boy. Sampai saat ini memang baru sejauh itulah dampak akan adanya portal yang dirasakan Si Boy.
Pebisnis lain yang cukup berkepentingan dengan portal adalah rental komputer yang biasa buka sampai malam. Granada kebetulan tak begitu bermasalah karena rental komputer yang berlokasi di Gang Pleburan I tersebut memang biasa buka sampai dengan pukul 22.00.
"Portal tidak begitu berpengaruh pada bisnis saya. Karena memang kami tutup ketika jam malam diberlakukan. Kalaupun ada pelanggan kami yang terpaksa harus ngetik sampai larut malam, itu kan insidentil", jelas Suhardi, penjaga Granada, ketika ditemui Hawe Pos.
Namun tidak demikian halnya dengan Baga Komputer. Pelanggan yang kesulitan masuk dari arah timur terpaksa harus berputar sampai jalur utama. Hal ini bisa dimaklumi mengingat pemberlakuan jam malam untuk portal - portal di setiap ujung gang lebih ketat dari portal induk. Setiap pukul 21.00 persis, portal di gang Pleburan I-VI sudah ditutup. Berputar untuk menembus jalur utama sekalipun belum tentu membuahkan hasil. Pada pasalnya, portal di jalur utama sebagai tembusan Gang Pleburan IV tempat Baga Komputer terletak, tidak dijaga. Hanya portal yang terletak pada pertemuan jalur utama Pleburan dengan Jalan Hayam Wuruklah yang dijaga Slamet.
Anton bertutur, "Kami masih bisa toleransi, sih. Sepanjang penutupan daerah ini dengan portal masih pada batas normal, kami bersepakat. Tapi kalau sudah nggak wajar, pasti kami protes." Yang dimaksud Anton dengan tidak wajar adalah pelanggaran jam malam semacam percepatan penutupan portal atau keterlambatan pembukaannya.
Wartel adalah bisnis lain yang juga bersinggungan dengan pemberlakuan jam malam. Sugeng, pemilik wartel di Gang Pleburan III no. 12 menyesuaikan jam buka wartelnya dengan pemberlakuan jam malam. "Kalaupun wartel saya sepi, paling waktu anak - anak mudik pas musim libur", kata beliau.
Sugeng sendiri cenderung apatis dengan dibangunnya portal. "Kalau ditutupnya malam hari thok, percuma. Jaminan keamanan cuma ada saat portal ditutup. Kalau siang portal dibuka, daerah ini tetap saja nggak aman. Nggak ada yang jaga. Ada nggak ada portal, nggak begitu ngefek", jelasnya panjang lebar.
Senada dengan Sugeng, Suwanto yang biasa berjaga di wartel Gang Pleburan II bertutur serupa.
Yang merasa dirugikan sehubungan dengan adanya portal justru konsumen yang berasal dari arah timur. Sulit bagi mereka untuk menemukan wartel lain kecuali wartel - wartel yang berlokasi di Gang Pleburan I-IV.
Pihak yang berkepentingan sehubungan dengan adanya portal dan pemberlakuan jam malam kecuali pebisnis adalah mahasiswa yang notabene adalah aktivis kampus. Aktvis kerap pulang larut malam dari kegiatan kampus. Dengan adanya portal, semacam ada paksaan untuk meminimalisir acara pulang malam. Hal ini diakui oleh Nur Habibah yang berdomisili di Gang Singosari IX no. 28 A. Mahasiswa Sastra Indonesia '00 ini biasa aktif di KMSI dan BEM FS. "Mau nggak mau, ya kami harus mengurangi kebiasaan pulang malam. Lagian kami kurang enak dengan tetangga kalau keseringan pulang malam", katanya.
Sedang Yudha, mahasiswi D3 Perpajakan - FISIP yang juga aktivis dengan tegas mengatakan bahwa dia merasa terganggu dengan adanya portal. "Buat apa sih ada portal segala ? Saya bahkan nggak tahu kenapa portal dibangun. Jengah juga sih sama tetangga kalau sering - sering pulang malam. Ini jelas nggak mendukung kegiatan saya sebagai aktivis", tutur Yudha sedikit sengit.
Masih berdasarkan penuturan Yudha, di Gang Singosari IX ada teguran secara tidak langsung dari pihak RT bagi tamu yang berkunjung sampai dengan jam malam. "Di sini masih agak ketat juga sih terapan etika sosialnya. Ngapel jam 9, pasti kena samperan."*(/y,Iq)
--->tulisan ini telah dimuat di Hawe Pos edisi cetak VIii/5 -19 Mei 2003<---


Back Home

 
 
Komentar, kritik, saran, atau masukan dari anda tentang tulisan di atas dapat anda samapaikan dan tuliskan langsung di sini dan hasilnya juga langsung dapat anda lihat!

[ Tulis Komentar] [ Lihat Komentar]