e-mail: hawepos_online@yahoo.com
 
Foto Ilustrasi
Ketika sang buah hati hadir ditengah pasangan nikah muda, saat itulah awal terasa...
  Thursday, 17-Jul-2003  
 


Jodohku di Kampus Undip

Sepasang muda-mudi dengan mesranya jalan bergandengan menuju perpustakaan FISIP Undip. Dengan ramah keduanya menyapa sekumpulan mahasiswa yang lagi asyik nongkrong dekat perpustakaan. Sapaan mereka dibalas dengan hormat. Setelah berbincang sejenak, keduanya berpisah. Sang pemuda masuk ke dalam perpustakaan sementara sang wanita melangkah pulang.

Nama wanita itu Ema. Usianya 23 tahun. Saat ini ia berstatus mahasiswa FISIP jurusan Administrasi Negara angkatan 1998. Sedang laki-laki yang tadi menggandeng Ema dengan mesra bernama Harry, 24 tahun, suami sekaligus senior Ema di kampus.

Tidak banyak yang tahu kalau Ema sudah berumah tangga. Akad nikah dilangsungkan bulan September silam, sedang resepsi pernikahan baru 7 Juni nanti. Maka saat undangan resepsi disebar, giliran teman-teman Ema terkaget-kaget. “Awalnya sih banyak yang kaget ketika kami mengatakan telah menikah enam bulan lalu,” cerita Ema sambil tersenyum.
Namun dari kaget, mereka akhirnya jadi salut dan hormat. Kini, karena sudah berstatus sebagai istri Harry, di FISIP Ema pun beroleh panggilan baru: Ibu.

Ema dan Harry pertama kali bertemu di kampus. Perjodohan mereka bermula dari pertemanan biasa-biasa saja. Akhirnya karena sering jalan bareng dan sharing, mereka pun beroleh kecocokan. Dengan penuh keyakinan mereka merasa sudah ketemu jodoh. Dalam istilah kerennya, dari temenan jadi demenan.

Setelah berpikir panjang dan mempertimbangkan segala resikonya mereka sepakat untuk meminta persetujuan dari kedua orang tua masing-masing. Meski kini telah berstatus sebagai istri, namun perjalanan menuju mahligai rumah tangga tak semulus seperti yang dibayangkannya.

Orang tua Ema yang berada di Jakarta awalnya menentang keras. Selain keduanya masih muda, mereka juga masih berstatus mahasiswa. Bersama Harry, lobi tingkat tinggi pun dilakukan. Akhirnya keyakinan orang tuanya luluh juga.

Bagi Ema dan Herry keputusan untuk menikah merupakan keputusan final. Selain saling mencinta keduanya pun merasa tak mungkin bisa dipisahkan lagi.
Menurut Ema keputusan menikah bukannya tanpa resikonya sosial. Tak jarang masyarakat yang mengetahui pernikahan itu mencibirnya. Apalagi ada juga orang yang menyebarkan isu pernikahan mereka hanya untuk menutupi aib saja. Ema dituduh telah hamil di luar nikah. “Ibuku sampai stress hingga darah tingginya kambuh mendengar para tetangga menggosipkan hal yang tidak benar itu,” kisah Ema.

Namun ia bersama suaminya memutuskan untuk bersikap cuek. Prinsipnya biarlah waktu yang membuktikan kebenarannya. “Toh pada akhirnya gosip itu reda dengan sendirinya. Dan kalau saya hamil pasti perut saya sudah besar. Nyatanya sekarang lihat sendiri khan, kalo saya belum hamil,” ucapnya sembari memperlihatkan perutnya yang memang masih ramping.

Untuk mencukupi kebutuhan harian rumah tangga, cerita Ema, suaminya merintis usaha kecil-kecilan. “Mumpung belum punya momongan, saat ini kami ngebut skripsi dan mencoba menjalankan usaha baru,” ucap wanita berjilbab ini.
Namanya masih merintis, tentu saja kehidupan rumah tangganya tetap saja kekurangan. Apalagi, untuk biaya kuliah berdua mereka terhitung lumayan mahal. “Akhirnya sampai sekarang orang tua kami masih memberi jatah tiap bulan,” katanya jujur.

Menurut Ema, kedua orang tuanya, terhitung tidak pelit. Dalam sebulan saja mereka berdua masih diberi uang jajan layaknya mahasiswa lainnya. Meski begitu untuk urusan rumah tangga mereka orang tua tak ikut campur tangan. Dalam hal keuangan orang tuanya membiarkan kehidupan rumah tangga dijalankan secara bebas keduanya. Yang jelas, menurut Ema, gara-gara belum mempunyai pekerjaan tetap, orang tuanya selalu tak pernah melupakan kehidupannya.

Ema dan Harry bukanlah satu-satunya pasangan muda yang telah berstatus menikah muda. Dhian Fatmasari (24) adalah contoh yang lain. Mahasiswi Sastra Inggris '97 ini juga telah menikah di penghujung tahun 2000 lalu. Pria yang beruntung menjadi suaminya adalah Arifin teman seangkatannya di Fakultas Sastra Undip.

Bila pasangan Ema dan Herry belum memiliki anak, Dhian tengah hamil lima bulan. Dalam hitungan 4 bulan saja pasangan Dhian dan Arifin bisa menggendong anak.
Awalnya pertemuan Dhian dan Arifin terbilang alamaiah. Keduanya yang pernah aktif di kegiatan Rohani Islam Undip ini menyatakan bahwa mereka merasa ada kebaikan bila mereka menikah. Artinya menurut Dhian, menikah merupakan pilihan yang sadar. “Hal ini juga wujud komitmen kami dengan agama dan untuk berjuang bersama suami,” ucap Dhian seraya berdakwah.

Dhian yang dilahirkan pada tahun 1978 ini, tinggal di rumah mertuanya di Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Semarang. Sementara itu sang suami tinggal di Jakarta, setelah lama bekerja di Semarang. Jabatan Arifin termasuk mentereng untuk ukuran mahasiswa Sastra Inggris angkatan 1997 ini, Account Manager Bank Muamalat di Jakarta. Memang, menurut Dhian, suaminya selain kuliah di Undip juga menimba ilmu di Sekolah Tinggi Ekonomi Widya Manggala Semarang.

Meski jarak memisahkan keduanya komunikasi mereka tetap lancar. Dan boleh di bilang mereka adalah pasangan yang telah mapan dilihat dari segi ekonomi, mengingat keduanya sama-sama mampu hidup secara mandiri.

Dhian sendiri saat ini merintis usaha Multi Level Marketing (Ahad-Net), selain juga merintis bisnis konveksi dan desain grafis. Mungkin sudah menjadi resiko sebagai kepala rumah tangga yang harus membanting tulang demi penghidupan keluarga. Meski begitu sampai saat ini Arifin belum juga menyelesaikan skripsinya di Sastra Undip. “Sayangnya sampai saat ini Mas Arifin belum menyelesaikan skripsinya saking sibuknya bekerja,” tukas Dhian, yang mantan ketua Bidang Pendidikan dan Politik BEM Undip ini.

Sampai sejauh ini sudah banyak pasangan muda yang secara terang-terangan mau memproklamirkan pernikahan mereka pada yang lain. Sebuah kabar gembira istilahnya. Namun pandangan sinis mengenai kawin muda juga sering muncul. Sebenarnya apa sih untungnya kawin muda? Hal yang patut jadi pertanyaan. Dimana banyak mahasiswa yang notabene kaum muda berusaha mengisi masa muda mereka dengan segudang aktivitas, mencari teman sebanyak-banyaknya, meniti karir, atau bahkan yang hura-hura, pastilah aneh jika seorang pemuda atau pemudi memutuskan menikah dan akhirnya mempunyai kecenderungan terkungkung hidupnya dalam suatu lembaga yang mengikat, tanpa kebebasan.

Bahkan adanya anak dalam kehidupan pasangan muda bisa jadi senjata makan tuan. Artinya anak bisa merepotkan bagi pasangan yang belum siap benar dalam hal keuangan dan mental. Karena bagaimanapun dengan hadirnya anak perhatian ekstra harus dicurahkan sepenuhya. Tentunya, sebuah konsekuensi yang lumayan berat. Namun bagaimanapun kedua pandangan ini tidak dapat disatukan mengingat mereka yang menikah sudah barang tentu mempunyai pertimbangan tersendiri akan hal ini.

Ada lagi Nove (25), yang juga menemukan belahan hatinya di bangku kuliah dan memutuskan menikah saat masih kuliah. Uniknya sang suami berasal dari negeri Sakura. Kisah cintanya ini tumbuh ketika ia masuk Fakultas Sastra.

Nove bercerita, lelakinya berasal dari Jepang yang juga teman seangkatannya. Muula-mula dia kagum dan tertarik pada budaya Indonesia. Karena sama-sama kuliah di Jurusan Sejarah Undip, Nove yang gadis asal Pulau Andalas, Sumatra Barat ini mengaku beruntung mendapatkannya .

Keduanya memutuskan ke pelaminan dengan upacara pernikahan ala Sumatera yang berlangsung 7 hari, 7 malam. Tepatnya pada bulan Februari 2000 lalu. Tak cukup itu saja, karena bersuamikan orang Jepang, maka pesta perkawinan ala adat Jepang pun digelar di negeri sakura 6 bulan kemudian.

“Ia sering bertanya banyak hal tentang Indonesia, bahkan tak jarang ia belajar Bahasa Indonesia dengan saya. Maklum waktu itu ia belum fasih betul berbahasa Indonesia,” ucap wanita berambut sebahu ini.

Meski sudah menikah, Nove masih semester VIII tetap melanjutkan kuliah. Namun sayang ketika ujian semester tiba Nove lebih memilih untuk ikut suaminya pergi ke Jepang. Karena studinya keteteran, akhirnya Nove berhenti kuliah dari Jurusan Sejarah Undip.
Namun seiring berjalannya sang waktu dan keinginannya untuk pindah bersama suaminya ke Jepang, membangkitkan semangatnya untuk kembali kebangku kuliah. Kali ini jurusan yang dituju Program Studi Diploma III Bahasa Jepang Undip. ”Karena kami berencana akan pindah atau tinggal di Jepang, sementara suami saya juga ingin melanjutkan studi S2 nya di sana,” aku Nove bahagia.

Sungguh beruntung, mungkin itu kata yang paling cocok untuk menggambarkan kehidupan pasangan ini. karena semenjak menikah mereka telah hidup mapan. Campur tangan siapapun termasuk orangtua, tak pernah terjadi. “Setelah menikah kami tinggal di rumah sendiri, sebagai hadiah pernikahan dari suami saya,” jelasnya bangga.
Lain lagi kisah Padang Kusumo, 23 tahun, mahasiswa Fakultas Hukum Undip. Kisah kasihnya tak pernah terjadi seperti yang lainnya. Soalnya, Padang bertemu Margiasih, 23 tahun, yang jadi istri berawal saat masih aktif di Koordinator Kegiatan Islam (KKI) Fakultas Hukum. Mereka menjadi suamui istri dan hidup serumah karena kebetulan. Tanpa pacaran? ”Saya pacarannya seumur hidup”, jawab mantan Ketua Koordinator Kegiatan Islam (KKI) FH Undip 2000/2001 ini tanpa basa basi.

Sekarang Margiasih, istri Padang, menjabat sebagai Kabag keuangan SMU Islam Terpadu Hidayatullah Semarang. Awalnya, Margiasih kuliah di Politeknik Negeri Semarang. Setelah pinangan Padang datang tanpa pikir panjang langsung diterimanya. Dengan alasan menikah demi Allah (Maried By Allah), dengan mudah Kusumo meluluhkan hati Margiasih dan orangtuanya. Akhirnya pada bulan Januari 2003 lalu pesta pernikahan pun dilangsungkan di rumah orang tua Margiasih di kabupaten Purbalingga.

“Saya Married by Allah, pertama karena sudah fitrah, saya sebagai mahluk hidup yang membutuhkan pasangan, kedua proses ruhiyah atau perbaikan diri,” tutur Padang, yang aktif disalah satu partai politik peserta pemilu ini.

Mengenai jurus jitu anti konflik rumah tangganya, Padang mengaku mempunyai kebiasaan dengan menjalani forum mutaba'ah, atau evaluasi bersama. Istilahnya forum komunikasi bagi mereka berdua. Keterbukaan membawa mereka pada keharmonisan rumah tangga yang tentunya menjadi dambaan setiap pasangan.

Lantas bagaimana kuliahnya? Masih sama dengan yang lainnya, belum selesai. Meski begitu Padang yang bekerja di PAHAM (Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia) sejak tahun 2000 dan sekarang menjabat sebagai direkturnya.

Meski belum selesai, Padang mengaku, kuliah tak akan hancur hanya gara-gara ditinggal nikah. “Kalaupun amburadul, yang salah bukan nikahnya tapi pribadi yang menjalani pernikahan itu sendiri,” ucapnya tegas.

Barangkali pengakuan itu sepihak. Namun realita yang ada menunjukkan sebaliknya. Mahasiswa yang menikah di usia muda dan masih kuliah, hidupnya boleh dibilang memprihatinkan. Secara logis, konsentrasi mereka terpecah-pecah. Antara kuliah, bikin skripsi, bekerja mencari nafkah atau mungkin duduk manis di rumah bagi istri-istri yang sedang cuti kuliah karena hamil.

Cerita Fusi, mahasiswi FKM Undip '98, yang saat ini telah mempunyai putra bisa dijadikan contoh. Sebagai mahasiswi yang masih mempunyai tanggungan menyelesaikan skripsi ini terhambat dengan kehadiran buah hati, hasil buah cintanya dengan Wahyu, suaminya. Walaupun sudah semaksimal mungkin menyeimbangkan waktu antara keluarga dan kuliah, tetap saja ada yang harus dikalahkan. Akhirnya, menurut Fusi, keluarganyalah yang harus dimenangkan. ”Bagaimanapun anakku masih butuh perhatian ekstra dari saya, sehingga sebelum kuliah saya harus mengurus keluarga. Tentunya tak lupa menyusui anak dulu,” ucapnya menyakinkan.

Beruntunglah Fusi mendapatkan dukungan orang tuanya. Karena belum memiliki rumah sendiri, Fusi dan suaminya serumah dengan orang tuanya. Tiap kesulitan datang, Fusi tinggal minta bantuan orang tuanya.

Mapankah Fusi? Tentunya tidak. Selain dari materi tak tercukupi, suaminya pun masih mengandalkan orang tuanya sendiri untuk biaya kuliahnya.
Artinya, bila dulu punya komitmen yang kuat bila menikah akan mencukupi hidup keluarga secara mandiri, toh kenyataan menuntut lain. Komitmen itu hanya manis di bibir saja. Realitasnya, orang tua masih segalanya di dalam rumah tangga Fusi.

Fusi tak mampu untuk munafik. Dia mengakui orang tuanya masih sering menghidupi semua kebutuhannya. Meski kini Fusi menjalankan usaha dengan menjual produk Sophie Martin, sedangkan suaminya menjadi programmer, kenyataannya belum mampu menutup kebutuhan hidup harian keluarganya. Apalagi Fusi telah memiliki anak, kebutuhan susu dan makanan tambahan sang buah hati masih dibantu orang tuanya.

Kuliahnya? “Sudah menjadi resiko, jika sebelum kuliah harus mengerjakan PRT (Pekerjaan Rumah Tangga-red), jadi sering juga sih telat masuk kuliah. Sudah dimaklumi lagi,” ungkap ibu muda yang menikah pada awal tahun 2002 lalu.

Namun, menurut Fusi, kuliahnya masih terbilang aktif. Menurutnya semua ini karena suaminya selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan kulaihnya. ”Suamiku selalu memberi semangat agar skripsiku kelar, maklumlah, dia yang lebih dulu diwisuda. Sekalipun ngetik pasti dibantu, biasa bagi-bagi tugas,” ungkapnya.

Kehidupan layaknya pasangan Fusi dan Wahyu ini, barangkali cerita yang tersembunyi di tengah riuh rendahnya kehidupan kampus Undip. Bila di kampus mereka hanya bisa berbicara tentang susahnya mengerjakan ujian, mencari dosen pembimbing atau sekadar bertemu teman ngobrol. Di rumah bisa lain ceritanya.

Memang, bagi Ema, Dhian, Nove, Margiasih dan mahasiswi lain yang bersuami, hidup tak lagi bersendiri. Setidaknya ada suami yang menemani dari kesedihan dan kegembiraan, dari kedukaan dan kebahagian. Yang jelas, status mereka bertambah satu. Selain menjadi mahasiswa juga seorang ibu rumah tangga.*(firoh/sukarno/faisol)


Back Home

 
 
Komentar, kritik, saran, atau masukan dari anda tentang tulisan di atas dapat anda samapaikan dan tuliskan langsung di sini dan hasilnya juga langsung dapat anda lihat!
Komentar Here